Education basic of environment is something that interesting and unique
Pendidikan berbasic lingkungan merupakan suatu model yang harus dikembangkan di indoensia. Pendidikan ini menitik beratkan padapembelajaran alam, dimana siswanya dilatih untuk memahami alam, mencintai alam dan membangun alam. Pendidikan semacam ini udahbanyak berkembang di luar negeri. Siswa belajar dalam suasana tenang tentram danalam mendukung itu. Gedung sekolahnyapun di bangun di tengah-tengah rimbunan pohon yang indah dan nyaman. Wah…..Pendidikan semacam ini betul- betul menyenangkan. Siswa dapat belajar dengan penuh kemauan , tanpa tekanan dan keterpaksaan dan didukung oleh lingkungan alam yang nyaman. Seperti sekolah dasar di Turky(Cumhuriyet Local Boarding (Primary) School", located in Azdavay, district of the KastamonuProvince in the Black Sea region of Turkey).
Saya merasa tersentuh, manakala kawan saya (Goksel YILMAZ)Turkey mengirim emailke saya. Mengenai kondisi sekolah di sana. Hmmmm… Very natural… Sesuatu selalu berwawasan pada lingkungan. It is very beautiful . When…. Our school like to that…
Our school, with 20 teachers, has nearly 300 pupils, 180 of them are staying in our pensions (their families are from the villages).http://www.azdavayyibo.meb.k12.tr I would really appreciate, if you answer my e-mail .
Thanks in advance for your reply, i hope we can cooperate in a Comenius project, which would be a great opportunity for both schools to meet with different people with different cultural background.
Central Tapanuli is area in west coastal of Sumatera. It have mangrove forest and located in Aek horsik, Kalangan and Stardas. Mongrove forest is very important in cycle biochemical in the Mangrove ecosystem. Ecosystem Mangrove located between two ecosystem : Aquatic ecosystem and teresterial ecosystem, so t ecosystem Mangrove is called Interface ecosystem. In the ecosystem mangrove occur interaction between phisic factor, chemical, biology. Mangrove forest as source liftter leaf that will decomposition in tje ecosystem mangrove. In the decomposition process, bacteria and fungus are very important, other that macrofauna and arthropoda. The product of decomposition is organic matter and an organic compound. Available organic matter and an organic matter will be to support ecosystem mangrove productivitas in Tapanuli mangrove. this is Picture mangrove forest in Aek Horsik and I am taking research about Mangrove Bacteria.
By : Microbiology Magister of University North Sumatera/
Biology Teacher of Senior High school Matauli Pandan Central Tapanuli, North Sumatera
Karies gigi adalah penyakit yang multifaktorial. Proses terjadinya karies gigi melibatkan sejumlah faktor yang saling berinteraksi satu sama lain yaitu gigi dan saliva (host), mikroorganisme, substrat dan waktu (Kidd dan Bechal, 1992) dan proses ini dapat terganggu dengan adanya respon imun (Lehner, 1992).
Telah diketahui bahwa mikroorganisme penyebab karies gigi adaiah bakteri Streptococcus mutans.Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proses kolonisasi. Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993). Untuk itu maka peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar agglutinin saliva spesifik terhadap bakteri S, mutans pada penderita bebas karies dan karies gigi.
Streptococcus mutans adalah sebagaiagen dasaretiologiyang menyebabkancaries gigi pada hewan dan manusiayangmeliputibentukdan akumulasiplaque.Adanya Asidogenik dan acidurikdari Streptococcus mutans,memiliki kemampuan mensintesis glukosa ekstraselluler, yang merupakan faktor utama untuk perkembangan danterbentuknya biofilm cariogenik. Glukosa disintesisdari sukrosaoleh enzim glukotranfterase (GTFs),yang berpotensi sebagai penyakit plaquegigiyang disebabkan oleh adanya pelekatan dan akumulasi dariStreptoccocicariogenik pada permukaan mulut danmerupakan dukunganyang cukup terhadapstruktur integritas dari plaque. Streptococcus mutans menghasilkan 3 GTFs : GTF B,mensintesis glukans tak larut (Ikatanalpa 1,3 ), GTFs C : mensintesis campuran larutan tak larut dan larutan glukosa yang larut ( alpa 1,6 ) ;dan GTFs D mensintesis larutan glukosa. Aktivitas GTFs secara enzimatisterdapatpada : (i) Di dalamkelenjar ludah, (ii) Di dalam kelenjar pelicell yang dibentukpada permukaan gigi, (iii) pada permukaan bakteri.Sintesis glukans oleh enzim yang terjadidi dalam loci yang terpisahmerupakansesuatuyang penting untuk pelekatan bakteri dengan permukaan gigi yang lain.; GTFs B dan Cmenunjukkansebagai faktorvirulen yangpentingterutama dalamasosiasiStreptococcus mutans yang merupakan penyebab penyakit caries gigi. S.mutans juga menghasilkan enzimfruktosyltransferase (FTFs) tunggal, yang mengkatalis dalam sintesis fruktans dari sukrosa. Fruktansberfungsi sebagai polisakarida ekstraseluler yang dapatdimetabolisjikamakanandalam jumlah sedikit.Polisakarida diperlukan olehorganismedalam lingkungan yang unik, yangakandigunakan untuk pertumbuhan, metabolisme dan kelangsungan hidup. Oleh karena itupencegahanterhadap bentuk dan akumulasi darikomunitas biofilm kariogenikdi pengaruhi olehsintesis dari polisakarida yang merupakanjalur yang unik dalam pencegahan caries dan plaque gigi.
Lebah menghasilkanzatyang memiliki sifat anti toksik yang secara alami telah menunjukkan secara nyata adanya penurunan timbulnya caries gigi padatikus danakumulasiplaque gigi secara in vivo. Hasil penelitiansecara in vitro terhadapaktivitas dari 30 senyawa yang teridentifikasi menunjukkan adanyahambatan terhadap aktivitasGTFs dan viabilitas Streptococcus mutans; keduasenyawa tersebut yakni , apigenin dan tt- farnesol,yang dapat ditunjukkan akvitasnya secara biologi, yangmemiliki potensi anti plaque/ anti caries yang baik. Peneliti menemukan bahwa Apigenin ( 4,5,7 trihydroxylflavone ) adalah inhibitor yang baik terhadap GTFs B dan C;dantidak memiliki aktivitas terhadapS. Mutans, walaupun masih memiliki sifat selektif terhadap pertumbuhanStaphyloccoc aureus. tt- Farnesol, adalah senyawa alami yang terdiri dari alkohol ( 3.7,11- trimetil-2,6,10 dodekatrin-1,0l), yangmenghambat pertumbuhan dan metabolismedengan caramengganggu membran bakteri, mengganggu agen pembentuk sel membran bakteri , atau mempengaruhi sintesis glukans . tt-farnesol yang juga memiliki sifat anti bakteriterhadap Streptomices tendae danSacharomices cerevisiae,tetapi tidak memiliki anti bakteri terhadap Escherichia coli.Penambahan epigenin dan tt-farnesol baik secara sendiri atau secara kombinasi telah menunjukkankariostatik padatikusdan tidakberpengaruh secara nyata pada viabilitas mikroba pada mulut. Epigenin dan tt-farnesoltelahmenunjukkan adanya sifat non mutagenic dan non toksik baik secara invitro maupun in vivo. Yangmenjadi bahan orentasi dalam penelitian ini adalahmengenai pengaruh epigenin dan tt-farnesol terhadap aktivitas enzim GTFs dan membrane bakteri , yang ditunjukkan pada pengaruh dari senyawa apigenin, tt fernesol , kombinasi kedua senyawa terhadap proses akumulasi, komposisi polisakarida danviabilitas populasi biofilm secara in vitro pada Stretococcus mutans UA159.
Pengaruhsenyawa apigenin dan tt-farnesolterhadap prosesakumulasi biofilm
S. mutans UA159 ( Penyebab penyakit caries) biofilm pada umur 54 jam.Pengujian dengan senyawatt-farnesol dan epigenin, atau kombinasi selama 1 menit dalam dua kali sehari,dengan menggunakan kadar 1.33 mM. Konsentrasi 1.33 mM dipilih sebagai dasar ini didasarkan pada data yang telah menunjukkan adanyaefektivitas melawancaries secara in vivo.Kemampuanpopulasi selbiofilmsebelum dan sesudah perlakuan ditunjukkan pada gambar 1.
Gambar 1. biofilm yang mendapatkan perlakuan menunjukkan adanyakemampuan yang lebih rendah dalam membentuk biofilm bila dibandingkan dengan kontrol ( Mneurun antara 0.5 – 1 log 10dalam cfu/ biofilm ). Tidak menunjukkan adanya sifat bakterisida terhadap S.mutans ( Penurunan pada a>4 log 10 pada cfu/ biofilm
Kedua senyawa sacara nyata mengurangiproses akumulasibiofilm S. mutans dibandingkan dengan kontrol (p <>
Biofilm yang mendapat perlakuanmenunjukkan sedikit lebih rendah kemampuan dalam membentuk biofilm bila dibandingkan dengan kontrol ( menurun 0.5 – 1 log 10 dalam cfu / biofilm);yang ditunjukkan tidak adanyasifat bakterisidaterhadap S. Mutans, hal iniditunjukkan adanyapenurunan a > 4 log 10pada cfu/ biofilm.
Kedua perlakuansecara nyata mengurangi proses akumulasi dari biofilmdibandingkan dengan kontrol ( p<0.05),seperti yang ditunjukkan pada tabel 1. perlakuan dengantt- Farnesol danapigenin menunjukkanpengurangan 32% dan 43%terhadap biomasa( berat kering) dibandingkan denganperlakuan kontrol.;kombinasi dari dua perlakuan menunjukkanhasil lebih baik yakni pengurangan(50% biomassa ).Chlorhexidine menghentikan prosesakumulasi dari biofilm S. Mutans, danmenunjukkan hal yang sama dengan berat keringbiofilm pada umur 54 jam sebelum adanya perlakuan).
Pengaruhsenyawaepigenin dan tt-farnesol terhadap komposisi protein danpolisakaridabiofilm.
SENYAWAtt-Farnesol
SENYAWAApigenin
Datahasilanalisis polisakarida, karbohidrat dan proteinsebagai berikut : (i) total jumlah ( Tabel 1-3 ). (ii) persentasi berat kering padabio film ( Gambar 2 dan 3). Tabel 1menunjukkanjumlah total dari polisakarida, karbohidrat dan protein di dalam biofilm sebelum perlakuan( Umur 54 jam ) setelah perlakuan (126 jam);70 -80% berat kering biofilm dibanding dengan protein dan karbohidrat ( Gambar 2).Perlakuan biofilm dengan tt-farnesol, apigenin dankombinasi apigenin dan tt- farnesolmenunjukkanpengurangan polisakaridasebesar 40-60%bila dibandingkan dengan kontrol (p<0.05; style=""> kadar dari polisakarida padabiofilm dengan menggunakan chlorhexidinemenghasilkan biofilmyang sama dengan yang tidak mendapat perlakauan( 54 jam ); Perlakuan dengan menggunakan chlorhexidine efektif menghentikan perkembangan biofilm. Lebih lanjutjumlah totalprotein padaperlakuan biofilm dengansenyawa epigenin dan tt-farnesoldan chlorhexidine secara nyata menunjukkan pengurangan bila dibandingkan dengan kontrol ( p<0.05;>
nFigure 2 Persentase berat kering biofilm pada protein, polisakarida dan karbohidrat.
70-80% berat kering biofilm tersusun dari protein dan karbohidrat. Perlakuan dengan senyawa apienin,tt fernesol dan kombinasi keduanya mampu menunjukan pengurangan jumlah polisakarida sebesar 40-60% bila dibanding dengan kontrol (P<0.05).>.
Jumlah total dari karbohidrat ( Metode dasar antron dan resorcinol)setara apa yang ditemukan pada polisakarida ( dasarnya pada hitungan scintillation danessay IPS ), walaupun nilai diperoleh daripenentuan karbohidrat, termasuk monosakarida dangula yang lain dari membran sel. ( Tabel 1).
nTabel1. Perlakuan dengan tt-fernisol, apigenin menunjukkan adanya pengurangan 32%-43% terhadap biomasa( berat kering) dibanding dengan kontrol. Kombinasi senyawa apigenin dan tt fernisol menunjukkan pengurangan 50% biomasa.
Jumlah total dan kadar yang berbeda pada polisakarida` dipengaruhi oleh perlakuan dengan menggunakan senyawa apigenin dan tt – farnesol,baik secara sendiri-sendiri maunpun secara kombinasi;hasil dan kesimpulanpada tabel2 dan 3. jumlah total dariglukansyang terlarutalkali padaperlakuan biofilmdengan senyawa epigenin ,tt-farnesoldan chlorhexidine secara nyata menunjukkan pengurangan bila dibanding dengan kontrol ( p<0.05; style=""> kombinasi apigenin dan tt-farnesolsecara nyata menghasilkankadar glukans terlarut alkaliyang rendah ( p<0.05;gambar style=""> Jumlah total dan kadardari IPS secara nyata menunjukkanlebih rendah pada perlakuan biofilm dengan menggunakan epigenin, tt-farnesoldan chlorahexidine dibandingkan dengan kontrol ( tabel 2 dan gambar 3; p< style=""> Selanjutnya, hanyaperlakuan biofilm yang menggunakan apigenin, kombinasi apigenin dan tt-farnesol dan chlorhexidine menunjukan secara nyata adanyapengurangan jumlah fruktans terlarut alkali bila dibandingkan dengan kontrol (P<0.05); style=""> tidaksignifikan ( tabel 3 dan gambar 3). Padaperlakuanbiofilm denganmenggunakan chlorhexidine menunjukkan adanyapersamaan danjumlahpolisakarida yang ditemukan padabiofilm yang tidakmendapat perlakuan ( 54 jam).
TABEL.2. Penggunaa senyawa apigenin, tt-fernasoldan chlorhexidine secara nyata menunjukkan adanta pengurangan kadar glukosa dan IPS dalam bifilm bila dibandingkan dengan kontrol
TABEL. 3. Perlakuan dengan menggunakan senyawa apigenin, tt-fernosol dan Chlorhexidine menunjukkan secara nyata adanya pengurangan Fruktosa terlarut bila dibandingkan dengan kontrol (P<0.05)
Jumlah total dari glukans ( metodedasar pada anthrone ) danfruktansa ( Metode resorsinol ) di dalam biofilm yang memiliki persamaan denganglukans dan fruktans ( hitunganscintillation). Diantara perlakuan-perlakuan itu , hanya apigenin dan kombinasi epigenin dan tt- farnesol yang memiliki aktivitas hambatan terhadap enzim fruktosyltransferase dari S.mutans UA159 dalam larutan 60-70%hambatan pada konsentrasi 1.33mM.
PEMBAHASAN
Caries gigi adalah penyakit yang umum pada gigidan merupakan masalah besar penduduk Amerika dan negara lain.Tidak seperti kondisi umumnya penyakit, caries gigi merupakan penyakitsering terjadi pada masyarakat,adanya perawatan gigidenganbaik makapencegahan penyebab caries gigi bisa ditekansampai 95%.
Upaya untuk menghilangkan adanya penyakit caries, strategi yang seharusnya dikembangkan adalah menghilangkan faktor penyebab termasukdi dalam patogenisis yang umum pada penyakit mulut. Sintesis glukosa oleh GTFs merupakan hal yang penting dalam mengekpresikan penyebab terjadinya penyakit oleh S. Mutans.Matrik pluque yang kaya akan glukansakan menaikan porositas dan interaksi adhesif dan penurunan konsentrasi senyawaan organik. Pencegahan produksi gula,pendekatan therapeutik merupakan upaya untuk pencegahan terhadap bentuk ataupenyebab pluque gigi. Tak seperti antimikrobial spektrum luas, flora mulut tidak terganggu keberadaanya.Strategis kemoterapi adalah sebagai dasar pada tingkat bakterikariogenik di dalam penggunaan antimikroba , disamping itupertumbuhandan kemampuanorganisme untuk mensintesis glukans merupakan hal yanglebih penting dari pada populasi bakteri pada mulut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa epigenin dan tt-farnesol mampumengurangi penyakitcaries gigi pada tikus tanpa menyebabkanpengurangan jumlah populasi sel atau kadardari mutan Streptococci di dalam pluque tikus. Ada dugaan bahwa salah satu mekanismeanti caries/agentanti pluqueyang terekpresikan berpengaruh pada penyakitcaries gigi yaitudengan adanya penurunan sintesis glukosadalam pluque, hal inidipengaruh oleh aktivitas enzim GTFs dan membranbakteri secara invitro. Didalam penelitian ini,penelitimenelitiadanyapengaruh senyawa epiginin dan tt farrnesolterhadap biofilm dengan menggunakan model biofilm eksperimental S. Mutans UA 159 dengan perlakuan1 menit dalam 2 hari sekali,seperti pada manusia.Model ini menentukan komposisi polisakarida danpopulasi sel pada Biofilm S.mutans.
Di dalam penelitian ini, Peneliti menemukanbahwapenggunaan senyawa apigenin dan tt- farnesol,baik secara sendiri maupun kombinasi, 2 kali sehari ( total dari 6 kali penerapan ) menghasilkan jumlah polisakarida lebih rendahpadabiofilm S. Mutans.Adanya pengaruhpolisakarida olehsenyawa epiginin dan tt-fernosol, glukans terlarutalkali merupakan dasar yang penting untuk perkembangan biofilm dan akumulasi biofilm. Glukans terlarut alkali adalahglukans ekstrasel yang melekat pada permukaan sel dariglukansalpa 1,3danjuga sejumlah larutan glukansalpa 1,6 . Hal ini menunjukkanadanyasintesis glukansdari sukrosa oleh enzim GTFsyang berperanan penting dalam pelekatan dan kolonisasi dari S.mutanspada permukaan mulut. Pengurangan sintesisglukans terlarut alkali, oleh senyawaepigenin dan tt-farnesol secara nyatamempengaruhi perkembangan dan akumulasibiofilm.Perlakuandengan menggunakan epigenin dan tt-fernosolmenunjukkanviabilitas selyanglebih rendah biladibandingkan dengan kontrol. Senyawa epigenin ( Pada kadar1.33mM)memilikikemampuan anti bakteri terhadap S.mutans , sel plantonik atau tahap biofilm. Walaupun senyawatt-farnesol menunjukkanadanya sifatanti bakteri terhadap sel plantonik pada mutan Streptococci,tetapi tidak mampu membunuh biofilm S.mutans pada kadar1.33mM. Data menunjukkan bahwa penggunaan senyawa apigeninmenyebabkanadanya pengurangan terhadap prosessintesisglukans tak larut ekstraseluler, pelekatan danakumulasi dari biofilmS. Mutanspada permukaan .
Apigenin dan tt-farnesolmemiliki perbedaan mekanisme dalam mengurangi sintesis glukosa. Sasaran utama dari epigenin adalah enzim GTFs,terutama GTFs B da C,yang bertanggung jawab untuksintesis glukans yang tidaklarut dan sintesis glukans yang larut. Apigenin merupakan senyawa penghambat non kompetitif yang memiliki aktivitas terhadap enzimGTFs B dan C dalam larutan( 90 -95%) pada kadar1.33mM ataupenyerapanhydroxiapatitepada permukaan saliva ( terjadi penghambatanantara 60-65% ) pada1.33mM ) . Penelitimengamati bahwasenyawa apigeninsedikit berpengaruhterhadap sekresienzim saliva, seperti amilase dan lisosom ( H. Koo & W.H. Bowen, unpublishedresult ).Adanya apigenin menyebabkanmeningkatkan proporsi kelarutanglukans dalambiofilm dibandingkan dengan kontrol. Kemungkinanfenomena inidikaitkan dengan adanya pengaruh apigenin dalam mengekspresikan enzim GTFs D oleh S. Mutans.
Hasil penelitian selanjutnya, bahwa adanya pengaruhpenambahan apigenin, tt- farnesol;
Penambahan senyawa epigenin pada permukaannGTFs tidakberpengaruh terhadappenyerapan enzim GTFs D, dan juga akativitas enzim GTFsB dan C. Pencegahan sintesa enzim glukansoleh senyawa tt- farnesolmemberikan pengaruh terhadap membran sel, yang secara langsungberpengaruh pada aktivitas enzim, tt-farnesol kurang bersifat penghambat terhadap GTFs.Struktur kimia dan lipophilig dari tt-farnesol mendukungmembran yang menyebabkan perubahan permeabilitas dankestabilan membran,hasil pengamatan menunjukkan bahwa tt-farnesol mengganggu membran bakteri padasel plantonik padaStreptococi mutans .Hal Ini disebut sebagaizatyang menyebabkan kerusakan pada membran , tanpa mempengaruhi metabolis bakteri, tetapi juga berpengaruh terhadapsintesa glukans oleh Streptococcus mutans.
Pengaruhpenggunaan senyawa terhadap biofilm fruktans menunjukkanlebih kecil bila dibandingkan dengan glukans. Perlakuan biofilmdengan menggunakan apigenin lebih rendah bila dibandingkandengan alkali fruktans terlarut,kemungkinandisebabkan oleh ada kaitannya dengan pengaruh penghambatan pada aktivitas enzim fruktosyltransferase oleh epigenin (60 %penghambatan 1.33mM)jumlah dan persentase dari fruktans di dalam biofilm tidak dipengaruhi oleh tt-farnesol.
Selanjutnya, jumlah dan kadar dariIPS menurunkan dengan adanya senyawa apigenin dan tt-farnesol; IPS adalah Polimer glikokans yang memiliki ikatanalpa 1,4dan alpa 1,6 danmemilikiperanan pentingsebagai sumber untuk produksi asam bilalingkungantidak tersedia karbohidrat eksogen. Hal Inimemegangperanan yang pentingdalamaktivitas biologi sepertidalam pencegahan penyakit caries yang belum sepenuhnya diteliti, tetapi meskipun demikiandata telah menunjukkan bahwa IPS adalahmerupakan campuran darizat kariogenisitik dari S. Mutans.
Kombinasi senyawaapigenin dan tt-fernesolsecara nyata lebih efektif di dalam mengurangi akumulasi biofilmbila dibandingkan tanpa kombinasi ( P<0.05).perlakuan kombinasijuga menunjukkan hasil lebih baik dari pada apigenin,walaupun secara statistik tidak signifikan ( P>0.05). Kombinasi dari apigenin dan tt-farnesol secara nyatamengurangi persentaselarutan glukans alkali pada biofilm dibandingakan dengan kontrol ( P<0.05).Pengaruh terhadap hambatan yang paling baik darikombinasi apigenin dan tt-farnesol pada akumulasi biofilm ,konsentrasi glukosaalkalidijelaskan pada pengamatan padakombinasi perlakuan yang lebih efektif di dalam mengurangi timbulnya caries gigi.
Perbedaan apigenin dan tt-farnesol, chlorahexidine terhadap biofilm ,chlorhexidine adalahanti bakteri spektrum luas yang mampu menghambat aktivitas penyerapan GTFs ( 10-20% pada 1.33mM) Kelihatannya pengurangan viabilitas pada awal terbentuknya biofilm (54 jam ), chlorhexidine benar-benar menghentikanproses akumulasi pada bakteri S.mutans pada permukaan ,kandungan protein dan polisakrida padaperlakuan biofilm menunjukkan hal yang samadengan biofilm yang tidak mendapat perlakuan.
Pengaruh apigenin dan tt-farnesol padasatu spesies biofilmmempunyaibanyak implikasi terhadapkemampuan terapautik padasusunan biokimia yang komplek pada pluque gigi manusia.Terutama sekali,zat zatyangberpengaruh pada sintesa glukosa,matrik polisakarida , hambatan GTFs dan sintesis glukosa,akumulasi bakteri,termasuk mikroorganismepada mulut yang tidak membentuk polisakarida.Data telahmenunjukkan bahwa matrik glukosa merupakan faktor yang utama yang mempengaruhitingginya kariogenisitik pada pluque gigi ( Seperti pada mikrobiologi dan biokimia ) yang dibentukkarena adanyasukrosasecarain vivo.
Pada modelbiofilm monospesies, persentasepolisakarida (45 % dari biofilm berat kering ) nampak lebih tinggidari pada15% - 25%pada beratkering yang ditunjukkan pada pluque gigi. Bagaimanapun juga,konsentrasi polisakarida pada pluquegigi tergantung pada waktu sejak pengambilandan penambahan gula,tidak adanyaprosesdegradasi yang terjadi pada poliskarida ,Hal yang membedakanyaitu,apa yang terjadi pada pluque gigi.Adanya konsentrasi polisakarida tertinggi mungkin juga dihubungkan dengan. adanya pembongkaran sukrosa yang konstan olehS.mutans padabiofilm, S. mutans yang sedangmengalami pertumbuhan.
Datapenelitian ini menunjukkan bahwa suatuperlakuan( 1 menit dalam 2 kali sehari dengan penambahan zatapigenin dan tt-farnesolberpengaruh nyata terhadap proses akumulasi dankandungan polisakarida pada biofilm S.mutan. Pada umumnya, Apigenin dan tt-farnesol lebih berpengaruh pada biomasa danjumlah total dari polisakarida dibanding dengan viabilitas seldankandunganpolisakarida pada biofilm.Dalam penerapannya ,Penggunaan senyawa apigenin dan tt-farnesolsecaranyata berpengaruh terhadap laju sintesa glukosa , pengurangan akumulasi dan biomasa dari biofilm. Peneliti telah mempelajari mengenai mekanisme molekuler yang meliputi penghambatan biofilmdengan adanyaperlakuan.Secara toxicology, senyawa-senyawa itu tidak diteliti, peneliti tidak meneliti efekyang merugikan terhadap hewan yang diteliti. Senyawa Apigenin yangterbentuksecara alami, bersifat non mutagenik,senyawa non toksik bioflavonoid yang ditemukan di sayuran dan buah-buahan, danmerupakanzatuntuk diet(1-4 mg/ hari ). tt-farnesol adalah senyawa alami yang ditemukan padaminyakpada citrus,buah dan juga tidak memberikan efek racunsecara in vivo.
Dua senyawa alami inidigunakan untukmencegah penyakit caries gigi, senyawa tersebut tidak berpengaruh terhadap flora gigi ( Berbeda dengan chlorhexidine),senyawa senyawa ituakan menggangguproses akumulasi dan kandungan polisakarida pada pluque gigiyang umum disebut penyakit gigi.
Gambar mekanisme terbentuknya Biofilm
Gambar 2 Formasi Biofilm
PENUTUP
Penggunaan senyawa apigenin dan tt farnesol, kombinasi keduanya menghasilkan jumlah polisakarida ,glukosa, fruktosa ,viabilitas sel yang rendah pada biofilm bila dibanding kontrol
Penggunaan kombinasi senyawa secara nyata lebih efektif dalam mengurangi prosses akumulasi biofilm dinadingkan dengan cara sendiri-sendiri ( P<0.05) style=""> dengan senyawa apigenin saja walaupun secara statistik tidak signifikan.
Penggunaan chlorhexidine mampu menghambat aktivitasenzim GTFs (10-20%) pada 1.33mM, pengurangan viabilitassel, menghentikan proses terbentuknya biofilm.
Kombinasikedua senyawa secara nyata mampu mengurangikadar glukosa alkali pada biofilm bila dibandingkan dengan kontrol.
Penggunaan apigenin dan tt-fernesol bersifatanti bakteri
DAFTAR PUSTAKA
Ajdic, D., McShan, W. M., McLaughlin, R. E. et al. (2002). Genome sequence of Streptococcus mutans UA159, a cariogenic dental pathogen. Proceedings of the National Academy of Sciences, USA99, 14434–9.
Ashley, F. P. & Wilson, R. F. (1977). The relationship between dietary sugar experience and the quantity and biochemical composition of dental plaque in man. Archives of Oral Biology 22, 409–14.
Bowden, G. H. & Hamilton, I. R. (1998). Survival of oral bacteria. Critical Reviews in Oral Biology and Medicine 9, 54–85.
Bowen, W. H. (2002). Do we need to be concerned about dental caries in the coming millennium? Critical Reviews in Oral Biology and Medicine 13, 126–31.
Burke, Y. D., Stark, M. J., Roach, S. L. et al. (1997). Inhibition of pancreatic cancer growth by the dietary isoprenoids farnesol and geraniol. Lipids 32, 151–6.
Burne, R. A., Chen, Y. Y., Wexler, D. L. et al. (1996). Cariogenicity of Streptococcus mutans strains with defects in fructan metabolism assessed in a program-fed specific-pathogen-free rat model. Journal of Dental Research 75, 1572–7.
Cury, J. A., Rebelo, M. A., Del Bel Cury, A. A. et al. (2000). Biochemical composition and cariogenicity of dental plaque formed in the presence of sucrose or glucose and fructose. Caries Research 34, 491–7.
Czeczot, H., Tudek, B., Kusztelak, J. et al. (1990). Isolation and studies of the mutagenic activity in the Ames test of flavonoids naturally occurring in medical herbs. Mutation Research 240, 209–16.
Dibdin, G. H. & Shellis, R. P. (1988). Physical and biochemical studies of Streptococcus mutans sediments suggest new factors linking the cariogenicity of plaque with its extracellular polysaccharide content. Journal of Dental Research 67, 890–5.
Dionigi, C. P., Millie, D. F. & Johnsen, P. B. (1991). Effects of farnesol and the off-flavor derivative geosmin on Streptomyces tendae. Applied Environmental Microbiology 57, 3429–32.
DiPersio, J. R., Mattingly, S. J., Higgins, M. L. et al. (1974). Measurement of intracellular iodophilic polysaccharide in two cariogenic Influence of apigenin and tt-farnesol on biofilms 789 strains of Streptococcus mutans by cytochemical and chemical methods. Infection and Immunity 10, 597–604.
Dubois, M., Gilles, K. A., Hamilton, J. K. et al. (1956). Colorimetric method for determination of sugars and related substances. Analytical Chemistry 28, 350–6.
Ebisu, S., Kato, K., Kotani, S. et al. (1975). Structural differences in fructans elaborated by Streptococcus mutans and Strep. salivarius. Journal of Biochemistry 78, 879–87.
Emilson, C. G., Nilsson, B. & Bowen, W. H. (1984). Carbohydrate composition of dental plaque from primates with irradiation caries. Journal of Oral Pathology 13, 213–20. fluoride and aluminum from ionomeric materials on S. mutans biofilm. Journal of Dental Research 82, 267–71.from Streptococcus mutans in solution and adsorbed to experimental pellicle. Archives of Oral Biology 44, 203–14.
Hayacibara, M. F., Rosa, O. P., Koo, H. et al. (2003). Effects ofHornby, J. M., Jensen, E. C., Lisec, A. D. et al. (2001). Quorum sensing in the dimorphic fungus Candida albicans is mediated by farnesol. AppliedEnvironmental Microbiology 67, 2982–92.
Hotz, P., Guggenheim, B. & Schmid, R. (1972). Carbohydrates in pooled dental plaque. Caries Research 6, 103–21.
Ikeno, K., Ikeno, T. & Miyazawa, C. (1991). Effects of propolis on dental caries in rats. Caries Research 25, 347–51.
IRL Press, Washington, DC, USA.
Jones, C. G. (1997). Chlorhexidine: is it still the gold standard? Periodontology 2000 15, 55–62.
Koo, H., Cury, J. A., Rosalen, P. L. et al. (2002). Effect of a mouthrinse containing selected propolis on 3-day dental plaque accumulation and polysaccharide formation. Caries Research 36, 445–8.
Koo, H., Pearson, S. K., Scott-Anne, K. et al. (2002). Effects of apigenin and tt-farnesol on glucosyltransferase activity, biofilm viability and caries development in rats. Oral Microbiology and Immunology 17, 337–43.
Koo, H., Rosalen, P. L., Cury, J. A. et al. (1999). Effect of Apis mellifera propolis from two Brazilian regions on caries development in desalivated rats. Caries Research 33, 393–400.
Koo, H., Rosalen, P. L., Cury, J. A. et al. (2002). Effects of compounds found in propolis on Streptococcus mutans growth and on glucosyltransferase activity. Antimicrobial Agents and Chemotherapy 46, 1302–9.
Kulka, R. G. (1956). Colorimetric estimation of ketopentoses and ketohexoses. Biochemistry 63, 542–7.
Li, Y. & Burne, R. A. (2001). Regulation of the gtfBC and ftf genes of Streptococcus mutans in biofilms in response to pH and carbohydrate. Microbiology 147, 2841–8.
Loesche, W. J. (1986). Role of Streptococcus mutans in human dental decay. Microbiology Reviews 50, 353–80.
Machida, K., Tanaka, T., Yano, Y. et al. (1999). Farnesol-induced growth inhibition in Saccharomyces cerevisiae by a cell cycle mechanism. Microbiology 145, 293–9.
Marquis, R. E., Clock, S. A. & Mota-Meira, M. (2002). Fluoride and organic weak acids as modulators of microbial physiology. FEMS Microbiology Reviews 760, 1–18.
Marsh, P. D. & Bradshaw, D. J. (1995). Dental plaque as a biofilm. Journal of Industrial Microbiology 15, 169–75.
Matos-Graner, R. O., Smith, D. J., King, W. F. et al. (2000). Waterinsoluble glucan synthesis by mutans streptococcal strains correlates with caries incidence in 12- to 30-month-old children. Journal of Dental Research 79, 1371–7.
McCabe, R. M. & Donkersloot, J. A. (1977). Adherence of Veillonella species mediated by extracellular glucosyltransferase from Streptococcus salivarius. Infection and Immunity 18, 726–34.
Mien, H. K. & Mohamed, S. (2001). Flavonoid (myricetin, quercetin, luteolin, and apigenin) content of edible tropical plants. Journal of Agricultural and Food Chemistry 49, 3106–12
Moore, S. & Stein, W. H. (1954). A modified ninhydrin reagent for the photometric determination of amino acids and related compounds. Journal of Biological Chemistry 211, 907.
National Institutes of Health. (2001). Diagnosis and Management of Dental Caries Throughout Life. NIH Consensus Statement 18 (1), pp. 1–30. National Institutes of Health, Bethesda, MD, USA.
Nobre dos Santos, M., Melo dos Santos, L., Francisco, S. B. et al. (2002). Relationship among dental plaque composition, daily sugar exposure and caries in the primary dentition. Caries Research 36, 347–52.
Ramage, G., Saville, S. P., Wickes, B. L. et al. (2002). Inhibition of Candida albicans biofilm formation by farnesol, a quorum-sensing molecule. Applied Environmental Microbiology 68, 5459–63.
Rölla, G., Ciardi, J. E., Eggen, K. et al. (1983). Free glucosyl- and fructosyltransferase in human saliva and adsorption of these enzymes to
Sato, Y., Suzaki, S., Nishikawa, T. et al. (2000). Phytochemical flavones isolated from Scutellaria barbata and antibacterial activity against methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Journal of Ethnopharmacology 72, 483–8.
Schilling, K. M. & Bowen, W. H. (1992). Glucans synthesized in situ inexperimental salivary pellicle function as specific binding sites forStreptococcus mutans. Infection and Immunity 60, 284–95.
Steinberg, D., Rozen, R., Bromshteym, M. et al. (2002). Regulation of fructosyltransferase activity by carbohydrates, in solution and immobilized on hydroxyapatite surfaces. Carbohydrate Research 337, 701–10. SAS Institute. (1989). User’s Guide: Version 2 of JMP. SAS Institute, Cary, NC, USA.
Tanzer, J. M., Freedman, M. L., Fitzgerald, R. J. et al. (1985). Virulence of mutants defective in glucosyltransferase, dextran-mediated aggregation, or dextranase activity. In Molecular Basis of Oral Microbial AdhesionMergenhagen, S. E. & Rosan, B., Eds), pp. 204–11. American
Tanzer, J. M., Freedman, M. L., Woodiel, F. N. et al. (1976). Association of Streptococcus mutans virulence with synthesis of intracellular polysaccharide. In Proceedings of Microbial Aspects of Dental Caries (Stiles, H. M., Loesche, W. J. & O’Brien, T. C., Eds), pp. 597–616. Special Supplement to Microbiology Abstracts 1. Information Retrieval, Inc., London, UK.
teeth in vivo. In Glucosyltransferases, Glucans, Sucrose, and Dental Caries(Doyle, R. J. & Ciardi, J. E., Eds), pp. 21–30. Chemical Senses,
Vacca-Smith, A. M. & Bowen, W. H. (1998). Binding properties of streptococcal glucosyltransferases for hydroxyapatite, saliva-coated hydroxyapatite, and bacterial surfaces. Archives of Oral Biology 43, 103–10.
Venkitaraman, A. R., Vacca-Smith, A. M. & Kopec, L. K. (1995). Characterization of glucosyltransferaseB, GtfC, and GtfD in solution and on the surface of hydroxyapatite. Journal of Dental Research 74, 1695– 701.
Wunder, D. & Bowen, W. H. (1999). Action of agents on glucosyltransferases
Yamashita, Y., Bowen, W. H., Burne, R. A. et al. (1993). Role of the Streptococcus mutans gtf genes in caries induction in the specificpathogen- free rat model. Infection and Immunity 61, 3811–7.