
LOMBA PENELITIAN ILMIAH REMAJA (LPIR)
TINGKAT SMP 2011
PENGERTIAN:
LOMBA PENELITIAN ILMIAH REMAJA (LPIR) adalah suatu kegiatan penelitian siswa yang diarahkan pada pengembangan IPTEK, ditulis dalam sebuah makalah ilmiah sebagai bahan penilaian dalam kompetisi untuk mendapatkan karya-karya inovatif dan ilmiah.
TEMA:
PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN UNTUK MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERBASIS IPTEK
Sub tema:
menumbuhkembangkan kreativitas dan inivasi siswa dengan memanfaatkan sumber daya alam dan potensi lingkungan sekitarnya melalui penelitian ilmiah.
SIFAT DAN ISI TULISAN
1. KREATIF DAN OBYEKTIF
a. Berisi gagasan yang kreatif untuk mengatasi suatu permasalahan sederhana yang berkembang di masyarakat.
b. Didukung oleh data/informasi yang dapat dipercaya.
c. Bersifat asli (bukan jiplakan) dan bukan duplikasi.
2. LOGIS DAN SISTEMATIS
a. Setiap langkah penulisan dirancang secara sistematis.
b. Pada dasarnya karya tulis memuat unsure-unsur identifikasi masalah, analisis sintesis, pembahasan dan kesimpulan, sedapat mungkin memuat saran-saran.
c. Isi tulisan dimungkinkan berdasarkan kajian pustaka dan/hasil dari perekayasaan dan rancang bangun
SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA
Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-19 Tahun 2011
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan AJB Bumiputera 1912 akan menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-19 Tahun 2011. LKIG adalah ajang lomba kreativitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran guna mempermudah pemahaman ilmu pengetahuan bagi para peserta didik.
TINGKAT DAN BIDANG LOMBA
* Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
* Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat: 2 Bidang yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan(IPSK) dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi (MIPATEK)
RANGKAIAN KEGIATAN
18 Agustus 2011 : Registrasi Peserta
19 Agustus 2011 : Presentasi Finalis
20 Agustus 2011 : Audiensi dan Malam Penganugerahan Pemenang
21 Agustus 2011 : Kepulangan Peserta
HADIAH
Piala dan Piagam Penghargaan dari LIPI dan Uang Tunai dari AJB Bumiputera 1912
Hadiah I : Rp 12.000.000,-
Hadiah II : Rp 10.000.000,-
Hadiah III : Rp 8.000.000,-
PERSYARATAN
1. Peserta adalah guru yang mengajar pada lembaga pendidikan formal.
2. Belum pernah menjadi pemenang LKIG dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
3. Sistematika Penulisan : Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pustaka.
4. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
5. Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum pernah/sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
6. Jumlah halaman karya ilmiah maksimal 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto).
7. Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Daftar Riwayat Hidup serta mencantumkan alamat dan nomor telepon/fax kantor/rumah/HP yang mudah dihubungi.
8. Karya ilmiah sebanyak 4 eksemplar (1 asli, 3 fotokopi) dan softcopy (CD) diterima panitia paling lambat tanggal 13 Agustus 2011.
9. Pada pojok kiri atas sampul ditulis tingkat dan bidang lomba yang diikuti.
10. Warna sampul karya ilmiah : SD (merah), SMP Bidang IPSK (kuning), SMP Bidang MIPATEK (biru), SMA Bidang IPSK (hijau), SMA Bidang MIPATEK (oranye).
11. Karya ilmiah dan alat peraga yang diperlombakan menjadi milik panitia.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Informasi lebih lanjut:
Panitia LKIG ke-19 2011
Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan IPTEK LIPI
Sasana Widya Sarwono Lt.V
Jl. Jend Gatot Subroto 10
Jakarta Selatan 12710
Telepon 021-52920839/021-5225711 Psw.273,274, dan 276
Fax. 021-52920839/021-5251834
http://www.lipi.go.id
LITTER PRODUCTION AND PHYSICO-CHEMICAL CONDITIONS I MANGROVE, Avicennia marina (Forsk) Vierh., SWAMPS AT
Pirzada Ja Siddiqui dan Rashida Qasim
Deaprtement of Biochemistry of
Terjemahkan oleh
Wijiyono, S.Pd. M. Si.
Data hasil penelitian menunjukkan tentang produksi serasah dan faktor fisik-kimia seperti kelarutan oksigen, salinitas, pH dan suhu. Penelitian dilakukan di area yang spesifik dengan tanaman Avicennia marina ( Forsk) vierh. Produksi serasah bervariasi pada setiap musim. 74% total produksi serash diperoleh dari jatuhan daun. 26% sisanya berasal dari ranting, buah dan bunga. Jumlah produksi total berkisar antara 3.71+ 0.36 Tahun/ hektar. Pola Variasi dari kelarutan kandungan oksigen sama pada dua lokasi penelitian kecuali untuk besarnya nilai pada Back Water relatif rendah. Salinitas yang tinggi pada air laut menunjukkan rendahnya masukan air tawar ke laut. pH bersifat alkalin dan suhu bervariasi pada setiap musim.
Kata kunci: Produktivitas, mangrove, rhizosphere, Back water, Bakran Creek,jatuhan serasah.
Latihan Soal Harian
Items of Genetic
By Wijiyono, M.Si
a. 3 laki-laki dan 3 anak perempuan
b. 4 laki-laki dan 2 anak perempuan
c. 6 anak laki-laki
Good luck.....
ASTARI CHAIRUNISAH SISWI MATAULI TAPANULI TENGAH LOLOS SELEKSI PERTUKARAN PELAJAR
KE JEPANG 2009
Astari adalah siswi kelas X SMA Negeri Matauli merupakan satu dari 60 siswa untuk mewakili
Upaya untuk mencapainya melaui perjuangan yang berat dan proses seleksinya cukup ketat Seleksinya meliputi seleksi administrasi, seleksi akademis, seleksi diskusi dan terakhir seleksi nasional. Untuk bisa lolos dalam seleksi diperlukan persiapan yang matang serta stamina yang baik. Waktu seleksi dimulai dari jam 0.700 wib sampai 17.00. Proses seleksi dilakukan di PPIA Jl. Mansyur
Akhirnya selamat berjuang Astari , smoga jejak prestasimu diikuti adik-adikmu……..Amiin.
Congratulation
By Wijiyono
Beberapa program yang ditawarkan setiap tahunnya:
Program, Periode Keberangkatan & Durasi Program:
AFS Program (11 Bulan)
Maret 2010 negara tujuan Jepang
Agustus – September 2010 negara tujuan Amerika Serikat/Eropa
YES Program (11 Bulan)/Amerika Serikat
Agustus 2010
Jenesys/Jepang
Year Program (11 Bulan) berangkat: Maret 2010
Intensive Program (2 Minggu) berangkat: Desember 2009
Masa pendaftaran: 25 Maret 2009 – 30 April 2009.
Persyaratan umum:
- Warga Negara
- Sehat jasmani dan rohani.
- Mengikuti dan lulus proses seleksi bertahap yang diadakan oleh Bina Antarbudaya.
- Bersedia berangkat pada bulan Desember (khusus Intensive Programs).
Persyaratan tambahan untuk Siswa:
- Siswa kelas 1 SMA/SMK/Aliyah/ sederajat.
- Usia 15-16 tahun 7 bulan (kelahiran 1 September 1992 – 1 April 1994).
- Aktif berorganisasi dan berprestasi dalam beberapa kegiatan.
- Mendapat izin dari orang tua dan sekolah.
Pengumuman Finalis LKIG XVII dan PPRI VIII Tahun 2009
Senin, 27 Juli 2009
Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh Dewan Juri Lomba Kreativitas Guru (LKIG) DAN Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Tahun 2009, dengan ini kami memberitahukan Daftar Finalis Terpilih sebagai berikut :
Finalis LKIG Tahun 2009
Tingkat Sekolah Dasar (SD)
1. Suswandi,
Judul: “Aplikasi Pendidikan Kepramukaan dalam Konteks Ekosistem Mangrove sebagai upaya Pelestarian dan Pencegahan Kerusakan Mangrove di Pesisir Cilacap”
2. K. Windia, SDN Bunutin, Kab. Bangli –
Judul: “Penggunan Permainan Dakon, Kartu Jodoh, dan Kelereng Misteri untuk Menanamkan Konsep dan Meningkatkan Keterampilan Hitung Perkalian Pembagian Siswa Kelas II SDN Bunutin”
3. Endang Julistin, S.Pd., SD Bright Kiddie Pratama,
Judul: “Metode Dalang dan Pembuatan Puzzle sebagai Metode Kreatif dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Mata Pelajaran IPS”
4. Sukanda Permana,S.Pd., SDN Cicadas 2,
Judul: “Penggunaan ‘Mikrobot’ untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pelajaran IPA diKelas 5 SDN Cicadas 2 Kota
5. Yuyun Nurlaela, S.Pd., SDN Kepuh Kiriman III, Sidoarjo-Jawa Timur
Judul: “Peningkatan Kualitas Penguasaan Konsep dan Keterampilan Proses IPA Siswa Melalui Pembelajaran Praktik Berbasis Laboratorium Jinjing di Kelas IV SDN Kepuh Kiriman III Waru-Sidoarjo Jawa Timur”
Tingkat SMP Bidang IPSK
1. Fauridah, S.Pd., SMP Al Hikmah Surabaya, Jatim
Judul: “Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas VII SMP Al Hikmah Surabaya dengan Media Senyum itu Sehat”
2. Aris Riyadi,S.Pd., M.Pd., SMP Negeri 4 Widodaren, Ngawi, Jawa Timur
Judul: “Penggunaan Media Kartun Gerak dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Peristiwa Sejarah yang Menyenangkan di Kelas IX di SMP 4 Widodaren Ngawi”
3. Doko Harwanto, S.Pd., S.E., M.M., SMPN 1 Pejawaran, Banjarnegara-Jawa Tengah
Judul: “Media Kinestetik Advance Organizer Multi Dimensi dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Kretivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri 1 Pejawaran, Kabupaten Banjar Negara”
4. Sad Diana Puji Hartono, S.Pd., SMP Negeri 2 Rawalo, Banyumas-Jawa Tengah
Judul: “Meningkatkan Sikap Peduli Siswa Terhadap Permasalahan Lingkungan Hidup Melalui Teknik Learning By Doing (P20 Dis Gen plus) dengan Memanfaatkan Lahan Krisis sebagai Sumber Belajar pada Kelas VIII B SMP N 2 Rawalo”
5. Andi Nasrum, SMPN 1 Bulukumba-Sulawesi Selatan
Judul: “Improving The Students'Achievement Writing Of The Eighth Grade of SMP Negeri 1 Bulukumba By Applying and Discover Approach”
Tingkat SMP Bidang MIPATEK
1. Arief Kusmanto, SMP Negeri 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan
Judul: “ Riset Pengolahan Bahan Pangan Melalui Pendekatan Belajar S-A-V-I sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Ilmiah pada Pengembangan Diri KIR SMP Negeri 1 Bulukumba”
2. Arfian Babay, S.Pd., SMP N 4 Sungguminasa, Sulawesi Selatan
Judul: “Penggunaan Model Kapal Selam sebagai Alat Peraga Sederhana dalam Pembelajaran Tekanan pada Mata Pelajaran Fisika di SMP”
3. Ramli Kamaruddin, S.Pd., SMP-IT Hajar Abyadh, Kutai Timur, Kaltim
Judul: “Peningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII.A SMP-IT Hajar Abyadh Sengata Melalui Pengajaran Multimedia Berbasis Edutainment Berlatar Musik Barok pada Pokok Bahasan Himpunan”
4. Jaka Satria, S.Pd., SMP Negeri 1 Air Napal, Bengkulu
Judul: “Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Penggunaan Media Komik Kimia yang Dipadukan dengan Model Pembelajaran Make A Match pada Pokok Bahasan Zat Aditif dalam Makanan di Kelas VIII B SMP Negeri 1 Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara”
5. Prajna Bhadra Dharma, SMP Negeri 1 Baturaden, Jawa Tengah
Judul: “Pemanfaatan Metode Eksperimen Baterai Berisi Kulit Pisang dan Sawi untuk memberikan Pengaruh Positif pada Siswa SMP Negeri 1 Baturaden”
Tingkat SMA Bidang IPSK
1. Ameliasari Tauresia Kesuma,SE., MAN Salatiga, Jawa Tengah
Judul: “Penggunaan Media Pembelajaran Accounting Game dalam Upaya Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Akuntansi Peserta Didik kelas XII IS 3 MAN Salatiga Tahun Pelajaran 2008/2009”
2. Elis Ristyorini, M.Pd., SMAN 8 Malang, Jawa Timur
Judul: “Peningkatan Keterampilan Menulis Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing Melalui Proyek E-Mail untuk Kelas Freundshaft SMA Negeri 8 Malang”
3. I Gede Mardana S.Pd., SMAN 1 Busungbiu, Bali
Judul: “Penggunaan CD Multimedia Interaktif Berbasis Masalah dengan Setting Kooperatif Group Investigasi (GI) untuk Meningkatkan Kompetensi Dasar Aspek Kognitif Siswa Kelas X I SMA Negeri 1 Busungbiu Tahun Ajaran 2008/2009”
4. Fatmawati, S.Pd., SMK Negeri 4 Samarinda, Kalimantan Timur
Judul: “Pembinaan Anak Jalanan sebagai Salah Satu Upaya Mengasah Kepekaan Sosial bagi Pelajar SMKN 4 Samarinda”
5. Dra. Nurhayati, SMA SMART Ekselensia
Judul: “Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan Bermain Imajinasi dan Mind Map pada Siswa Kelas X SMA Smart Ekselensia
Tingkat SMA Bidang MIPATEK
1. Ruswanto, S.Pd., SMA Negeri 1 Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah
Judul:” Model Mesin Tetas Kombinasi Energi Matahari dengan Menggunakan Rambut Manusia Limbah Penjahit dan Serbuk Gergaji”
2. Drs. Ponimin, M.Pd., SMA Muhammadiyah 1 Klaten, Jawa Tengah
Judul: “Memadukan Penggunaan Media Alam, Laboratorium Maya dan Vidio Klip Pada Pembelajaran Getaran”
3. Drs. Ided Solihin, SMAN 1 Cibatu, Garut, Jawa Barat
Judul: “Alat Peraga Pemanfaatan Energi Ayunan sebagai Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas dan Menumbuhkan Kemandirian Siswa dalam Menghadapi Krisis Energi”
4. Dra. Herfen Suryati, SMA YP Vidya Dahana Biologi, Bontang, Kaltim
Judul: “Penggunaan Epidermis/Kulit Bawang Bombai sebagai Membran Semipermeabel dalam Pembuktian Fenomena Difusi-Osmosis dan Penerapannya pada Proses Pembuatan Manisan Rumput Laut”
5. Rosana Dewi,S.Si., SMA Internasioanl Islamic Boarding School, Bekasi, Jawa Barat
Judul: “Pemanfaatan Koran/Kertas Bekas Untuk Pembuatan Beberapa Alat Peraga Biologi”
Finalis PPRI Tahun 2009
Bidang IPSK
1. Goklas M.H.T, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan-ITB,
Judul: “Penggunaan Organizta Sebagai Solusi untuk Meningkatkan Kemandirian & Kualitas Hidup Penyandang Tunanetra”
2. Yeni Budi Rachman, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas
Judul: “Identifikasi Kerusakan Naskah Daluang
3. M. Nasir A., Fak. Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah
Judul: “Permainan Sepak Bola sebagai Alternatif Pendidikan Budi Pekerti Bagi Anak Usia Sekolah Dasar”
4. Angga Prasetyawan, Universitas
Judul: “Batik Fraktal:Tinjauan Konsep Inovasi sebagai Wujud Budaya Industri Kreatif”
5. Muhammad Imam Nasef, Fakultas Hukum Univ. Islam
Judul: “Studi Kritis Terhadap UU No 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Kajian atas Rumusan Kriminalisasi Tindak Pidana Hak Cipta dan Sanksi Pidananya)”
Bidang IPA
1. Deden Derajat Matra, Fak. Pertanian/Agronomi dan Hortikultura-IPB,
Judul: “Isolasi dan Karakterisasi Mikrosatelit Mangg is dengan Metode Pengkayaan (enrichment) untuk menganalisis Kekerabatan Manggis dengan Kerabat Dekatnya”
2. Zulvikar Syam Bani Ulhaq, FK-Universitas Brawijaya,
Judul: “Efek Ekstrak Kulit Kayu Durian (Durio zibeth inus Murr.) terhadap Derajat Inflamasi, Ekspresi Nuclear Factor-kappa B (NF-kB), Indukcible Nitric Oxide Synthase (Inos) dan Histopatologi Adjuvant-Induced Arthritic pada Tikus Putih”
3. Rifki Febriansah, Fak. Farmasi-UGM,
Judul: “Potensi Kemopreventif Ekstrak Etanolik Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk) pada Sel Hepar Tikus Galur Sprague Dawley Terinduksi 7,12 Dimetilbenz [a] Antrasena”
4. Rhesa Pramudita Utomo, Univ.Katolik Widya Mandala,
Judul: “Pemanfaatan Bentonit Pacitan sebagai Adsorben Murah untuk Penghilangan Zat Warna pada Limbah Tekstil”
5. Andi Asrafiani Arafah, Univ.Neg.Makassar, Sulsel
Judul: “Karakterisasi Geopolimer Dengan Bahan Aditif Abu Sekam Padi Sebagai Pengikat Logam Berat (Pb dan Hg)”
Bidang IPT
1. Suhadi, Fak. Tek. Pertanian, UGM,
Judul: “Produksi Xilanase dari Trichoderma harziaum EMXJ3 pada Media Limbah Tongkol Jagung dengan Variasi Pretreatment dan Rasio C/N”
2. Yogi Waldingga Hasnedi, Fak. Tek. T Pertanian-IPB,
Judul: “Teknologi Pengembangan Kemasan Cerdas (Smart Packaging) Berbahan Dasar Chitosan-Asetat sebagai Alat Pendeteksi Kebusukan Ikan”
3. Leanddas Nurdiwijayanto, Institut Teknologi Bandung, Jabar
Judul: “Pengaruh Penambahan Titanium terhadap Sifat-Sifat Optik dari Lapisan Tipis Zinc Oxide untuk Aplikasi Transparent Conducting Oxide (TCO)”
4. Steven Wang, FT. Unika Widya Mandala,
Judul: “Pembuatan Elektroda Kapasitor dari Limbah Kulit Ketela Pohon”
5. Ali Budhi Kusuma, Sekolah Ilmu dan Tek. Hayati Institut Teknologi Bandung, Jabar
Judul: “Aplikasi Teknologi Microbial Soil Slant Sederhana dalam Proses Daur Ulang Air Limbah Cucian Piring”
Para finalis diwajibkan hadir untuk registrasi pada tanggal 9 Agustus 2009 paling lambat pada pukul 16.00 WIB di :
Hotel Bumi Wiyata Depok
Jl. Margonda Raya
Depok, Jawa Barat
Telp. (021) – 7764265 / 7521440,
Presentasi finalis akan diselenggarakan pada tanggal 10 Agustus 2009.
Untuk keterangan lebih lanjut, dapat menguhubungi Panitia Penyelenggara :
Panitia LKIG dan PPRI Tahun 2009
BKPI LIPI
SWS Lt. 5
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10
Telp (021) 5225711, Ext. 273, 276
Fax. (021) 52920839
BONTANG, Prestasi membanggakan kembali diraih salahsatu pengajar dari Bontang, Herfen Suryati, Guru Biologi SMA Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (Vidatra) Bontang, meraih penghargaan dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Yayasan yang bertujuan mengkontribusikan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia itu, memberikan penghargaan kepada Herfen yang dinilai berhasil membuat inovasi pembelajaran dalam mata pelajaran Biologi, yang telah diterapkan di SMA Vidatra selama 3 tahun.
Dengan mengambil judul tulisan Eksplorasi Pedagogis Lahan Basah sebagai Sumber Belajar Konsep Ekologi dan Keanekaragaman Hayati, Herfen menjadi satu-satunya peserta dari
"Setiap tahun ITSF memberikan penghargaan untuk bidang inovasi pembelajaran dan penelitian. Prosesnya mulai 2004 lalu. Bagi guru yang mempunyai inovasi mengajar, diminta menuangkannya dalam bentuk proposal dan kemudian dikirimkan ke ITSF. Ratusan proposal yang berada dari seluruh Indonesia, kemudia diseleksi dan terpilih 12 buah proposal terbaik, dari ke 12 proposal itu, kemudian disaring lagi menjadi 10 proposal yang dinilai layak untuk mendapatkan award dari ITSF", kata herfen saat ditemui Kaltim Pos di kediamannya PC-VI perumahan PT. Badak NGL Bontang.
Tentang konsep belajar yang menjadi inovasi herfen, dikatakannya sebagai salah satu upaya menyelaraskan antara teori dan praktek dalam proses belajar mengajar.
"Kurikulum sekarang mengharuskan teori dengan praktek seimbang. karena itu, saya mencoba mengenalkan tentang keberadaan dan fungsi hutan bakau kepada siswa secara langsung. Lagipula, hutan bakau itu ekologinya sangat lengkap" ujar herfen.
Menurut istri dari Herman Retnandar dan ibu dari Verbryana Ramadhania dan Qurnia Hizry, dipilihnya hutan bakau sebagai konsep ekologi yang diajarkannya kepada siswa Vidatra karena prihatin dengan kondisi hutan bakau yang populasinya semakin berkurang di Bontang. Untuk lebih mengenalkan fungsi hutan bakau kepada siswanya, herfen biasanya membawa mereka ke Bontang Kuala dan ke Pantai Marina dua tempat yang masih ditumbuhi hutan bakau.
Education basic of environment is something that interesting and unique
Pendidikan berbasic lingkungan merupakan suatu model yang harus dikembangkan di indoensia. Pendidikan ini menitik beratkan pada pembelajaran alam, dimana siswanya dilatih untuk memahami alam, mencintai alam dan membangun alam. Pendidikan semacam ini udah banyak berkembang di luar negeri. Siswa belajar dalam suasana tenang tentram dan alam mendukung itu. Gedung sekolahnyapun di bangun di tengah-tengah rimbunan pohon yang indah dan nyaman. Wah….. Pendidikan semacam ini betul- betul menyenangkan. Siswa dapat belajar dengan penuh kemauan , tanpa tekanan dan keterpaksaan dan didukung oleh lingkungan alam yang nyaman. Seperti sekolah dasar di Turky(Cumhuriyet Local Boarding (Primary) School", located in Azdavay, district of the
Saya merasa tersentuh, manakala kawan saya (Goksel YILMAZ)
This is information from him
This district known to be one of the best preserved areas with natural beauties, animal habitats, you can have a look at web sites with real photos of Azdavay, such as :
http://www.azdavay.com/
http://www.azdavay.gov.tr/
There you can see waterfalls, natural beauties, forests which are very close to our school.
ILICA Waterfall : http://www.azdavay.com/
Valla Canyonu is the second biggest canyon on the world http://www.azdavay.com/
Valla Canyon activities http://www.trekist.com/
Ilgarini cave is the fourth biggest cave on the world.http://www.azdavay.com/
Azdavay peoples have got Local clothes, they wear interesting clothes.http://www.azdavay.
With nearly 3000 inhabitants, Azdavay is among the districts in the World, with the highest rate of oxygen percentage in the air.http://www.azdavay.bel.tr/
Our school, with 20 teachers, has nearly 300 pupils, 180 of them are staying in our pensions (their families are from the villages).http://www.
I would really appreciate, if you answer my e-mail .
Thanks in advance for your reply, i hope we can cooperate in a Comenius project, which would be a great opportunity for both schools to meet with different people with different cultural background.
Thanks, Hope me, this information is useful
By : Microbiology Magister of University North Sumatera/
Biology Teacher of Senior High school Matauli Pandan Central Tapanuli, North Sumatera
PENDAHULUAN
Karies gigi adalah penyakit yang multifaktorial. Proses terjadinya karies gigi melibatkan sejumlah faktor yang saling berinteraksi satu sama lain yaitu gigi dan saliva (host), mikroorganisme, substrat dan waktu (Kidd dan Bechal, 1992) dan proses ini dapat terganggu dengan adanya respon imun (Lehner, 1992).
Telah diketahui bahwa mikroorganisme penyebab karies gigi adaiah bakteri Streptococcus mutans.Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proses kolonisasi. Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993). Untuk itu maka peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar agglutinin saliva spesifik terhadap bakteri S, mutans pada penderita bebas karies dan karies gigi.
Streptococcus mutans adalah sebagai agen dasar etiologi yang menyebabkan caries gigi pada hewan dan manusia yang meliputi bentuk dan akumulasi plaque. Adanya Asidogenik dan acidurik dari Streptococcus mutans, memiliki kemampuan mensintesis glukosa ekstraselluler, yang merupakan faktor utama untuk perkembangan dan terbentuknya biofilm cariogenik. Glukosa disintesis dari sukrosa oleh enzim glukotranfterase (GTFs), yang berpotensi sebagai penyakit plaque gigi yang disebabkan oleh adanya pelekatan dan akumulasi dari Streptoccoci cariogenik pada permukaan mulut dan merupakan dukungan yang cukup terhadap struktur integritas dari plaque. Streptococcus mutans menghasilkan 3 GTFs : GTF B, mensintesis glukans tak larut ( Ikatan alpa 1,3 ), GTFs C : mensintesis campuran larutan tak larut dan larutan glukosa yang larut ( alpa 1,6 ) ; dan GTFs D mensintesis larutan glukosa. Aktivitas GTFs secara enzimatis terdapat pada : (i) Di dalam kelenjar ludah, (ii) Di dalam kelenjar pelicell yang dibentuk pada permukaan gigi, (iii) pada permukaan bakteri. Sintesis glukans oleh enzim yang terjadi di dalam loci yang terpisah merupakan sesuatu yang penting untuk pelekatan bakteri dengan permukaan gigi yang lain.; GTFs B dan C menunjukkan sebagai faktor virulen yang penting terutama dalam asosiasi Streptococcus mutans yang merupakan penyebab penyakit caries gigi. S.mutans juga menghasilkan enzim fruktosyltransferase (FTFs) tunggal, yang mengkatalis dalam sintesis fruktans dari sukrosa. Fruktans berfungsi sebagai polisakarida ekstraseluler yang dapat dimetabolis jika makanan dalam jumlah sedikit. Polisakarida diperlukan oleh organisme dalam lingkungan yang unik, yang akan digunakan untuk pertumbuhan, metabolisme dan kelangsungan hidup. Oleh karena itu pencegahan terhadap bentuk dan akumulasi dari komunitas biofilm kariogenik di pengaruhi oleh sintesis dari polisakarida yang merupakan jalur yang unik dalam pencegahan caries dan plaque gigi.
Lebah menghasilkan zat yang memiliki sifat anti toksik yang secara alami telah menunjukkan secara nyata adanya penurunan timbulnya caries gigi pada tikus dan akumulasi plaque gigi secara in vivo. Hasil penelitian secara in vitro terhadap aktivitas dari 30 senyawa yang teridentifikasi menunjukkan adanya hambatan terhadap aktivitas GTFs dan viabilitas Streptococcus mutans; kedua senyawa tersebut yakni , apigenin dan tt- farnesol, yang dapat ditunjukkan akvitasnya secara biologi, yang memiliki potensi anti plaque/ anti caries yang baik. Peneliti menemukan bahwa Apigenin ( 4,5,7 trihydroxylflavone ) adalah inhibitor yang baik terhadap GTFs B dan C; dan tidak memiliki aktivitas terhadap S. Mutans, walaupun masih memiliki sifat selektif terhadap pertumbuhan Staphyloccoc aureus. tt- Farnesol, adalah senyawa alami yang terdiri dari alkohol ( 3.7,11- trimetil-2,6,10 dodekatrin-1,0l), yang menghambat pertumbuhan dan metabolisme dengan cara mengganggu membran bakteri, mengganggu agen pembentuk sel membran bakteri , atau mempengaruhi sintesis glukans . tt-farnesol yang juga memiliki sifat anti bakteri terhadap Streptomices tendae dan Sacharomices cerevisiae, tetapi tidak memiliki anti bakteri terhadap Escherichia coli. Penambahan epigenin dan tt-farnesol baik secara sendiri atau secara kombinasi telah menunjukkan kariostatik pada tikus dan tidak berpengaruh secara nyata pada viabilitas mikroba pada mulut. Epigenin dan tt-farnesol telah menunjukkan adanya sifat non mutagenic dan non toksik baik secara invitro maupun in vivo. Yang menjadi bahan orentasi dalam penelitian ini adalah mengenai pengaruh epigenin dan tt-farnesol terhadap aktivitas enzim GTFs dan membrane bakteri , yang ditunjukkan pada pengaruh dari senyawa apigenin, tt fernesol , kombinasi kedua senyawa terhadap proses akumulasi, komposisi polisakarida dan viabilitas populasi biofilm secara in vitro pada Stretococcus mutans UA159.
Pengaruh senyawa apigenin dan tt-farnesol terhadap proses akumulasi biofilm
S. mutans UA159 ( Penyebab penyakit caries) biofilm pada umur 54 jam.Pengujian dengan senyawa tt-farnesol dan epigenin, atau kombinasi selama 1 menit dalam dua kali sehari, dengan menggunakan kadar 1.33 mM. Konsentrasi 1.33 mM dipilih sebagai dasar ini didasarkan pada data yang telah menunjukkan adanya efektivitas melawan caries secara in vivo. Kemampuan populasi sel biofilm sebelum dan sesudah perlakuan ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. biofilm yang mendapatkan perlakuan menunjukkan adanya kemampuan yang lebih rendah dalam membentuk biofilm bila dibandingkan dengan kontrol ( Mneurun antara 0.5 – 1 log 10 dalam cfu/ biofilm ). Tidak menunjukkan adanya sifat bakterisida terhadap S.mutans ( Penurunan pada a>4 log 10 pada cfu/ biofilm
Kedua senyawa sacara nyata mengurangi proses akumulasi biofilm S. mutans dibandingkan dengan kontrol (p <>
Biofilm yang mendapat perlakuan menunjukkan sedikit lebih rendah kemampuan dalam membentuk biofilm bila dibandingkan dengan kontrol ( menurun 0.5 – 1 log 10 dalam cfu / biofilm); yang ditunjukkan tidak adanya sifat bakterisida terhadap S. Mutans, hal ini ditunjukkan adanya penurunan a > 4 log 10 pada cfu/ biofilm.
Kedua perlakuan secara nyata mengurangi proses akumulasi dari biofilm dibandingkan dengan kontrol ( p<0.05), seperti yang ditunjukkan pada tabel 1. perlakuan dengan tt- Farnesol dan apigenin menunjukkan pengurangan 32% dan 43% terhadap biomasa ( berat kering) dibandingkan dengan perlakuan kontrol.; kombinasi dari dua perlakuan menunjukkan hasil lebih baik yakni pengurangan (50% biomassa ). Chlorhexidine menghentikan proses akumulasi dari biofilm S. Mutans, dan menunjukkan hal yang sama dengan berat kering biofilm pada umur 54 jam sebelum adanya perlakuan).
Pengaruh senyawa epigenin dan tt-farnesol terhadap komposisi protein dan polisakarida biofilm.
SENYAWA tt-Farnesol

SENYAWA Apigenin

Data hasil analisis polisakarida, karbohidrat dan protein sebagai berikut : (i) total jumlah ( Tabel 1-3 ). (ii) persentasi berat kering pada bio film ( Gambar 2 dan 3). Tabel 1 menunjukkan jumlah total dari polisakarida, karbohidrat dan protein di dalam biofilm sebelum perlakuan ( Umur 54 jam ) setelah perlakuan (126 jam); 70 -80% berat kering biofilm dibanding dengan protein dan karbohidrat ( Gambar 2). Perlakuan biofilm dengan tt-farnesol, apigenin dan kombinasi apigenin dan tt- farnesol menunjukkan pengurangan polisakarida sebesar 40-60% bila dibandingkan dengan kontrol (p<0.05; style=""> kadar dari polisakarida pada biofilm dengan menggunakan chlorhexidine menghasilkan biofilm yang sama dengan yang tidak mendapat perlakauan ( 54 jam ); Perlakuan dengan menggunakan chlorhexidine efektif menghentikan perkembangan biofilm. Lebih lanjut jumlah total protein pada perlakuan biofilm dengan senyawa epigenin dan tt-farnesol dan chlorhexidine secara nyata menunjukkan pengurangan bila dibandingkan dengan kontrol ( p<0.05;>

n Figure 2 Persentase berat kering biofilm pada protein, polisakarida dan karbohidrat.
70-80% berat kering biofilm tersusun dari protein dan karbohidrat. Perlakuan dengan senyawa apienin,tt fernesol dan kombinasi keduanya mampu menunjukan pengurangan jumlah polisakarida sebesar 40-60% bila dibanding dengan kontrol (P<0.05).>.
Jumlah total dari karbohidrat ( Metode dasar antron dan resorcinol) setara apa yang ditemukan pada polisakarida ( dasarnya pada hitungan scintillation dan essay IPS ), walaupun nilai diperoleh dari penentuan karbohidrat, termasuk monosakarida dan gula yang lain dari membran sel. ( Tabel 1).

n Tabel1. Perlakuan dengan tt-fernisol, apigenin menunjukkan adanya pengurangan 32%-43% terhadap biomasa( berat kering) dibanding dengan kontrol. Kombinasi senyawa apigenin dan tt fernisol menunjukkan pengurangan 50% biomasa.
Jumlah total dan kadar yang berbeda pada polisakarida` dipengaruhi oleh perlakuan dengan menggunakan senyawa apigenin dan tt – farnesol, baik secara sendiri-sendiri maunpun secara kombinasi; hasil dan kesimpulan pada tabel 2 dan 3. jumlah total dari glukans yang terlarut alkali pada perlakuan biofilm dengan senyawa epigenin ,tt-farnesol dan chlorhexidine secara nyata menunjukkan pengurangan bila dibanding dengan kontrol ( p<0.05; style=""> kombinasi apigenin dan tt-farnesol secara nyata menghasilkan kadar glukans terlarut alkali yang rendah ( p<0.05;gambar style=""> Jumlah total dan kadar dari IPS secara nyata menunjukkan lebih rendah pada perlakuan biofilm dengan menggunakan epigenin, tt-farnesol dan chlorahexidine dibandingkan dengan kontrol ( tabel 2 dan gambar 3; p< style=""> Selanjutnya, hanya perlakuan biofilm yang menggunakan apigenin, kombinasi apigenin dan tt-farnesol dan chlorhexidine menunjukan secara nyata adanya pengurangan jumlah fruktans terlarut alkali bila dibandingkan dengan kontrol (P<0.05); style=""> tidak signifikan ( tabel 3 dan gambar 3). Pada perlakuan biofilm dengan menggunakan chlorhexidine menunjukkan adanya persamaan dan jumlah polisakarida yang ditemukan pada biofilm yang tidak mendapat perlakuan ( 54 jam).

TABEL.2. Penggunaa senyawa apigenin, tt-fernasol dan chlorhexidine secara nyata menunjukkan adanta pengurangan kadar glukosa dan IPS dalam bifilm bila dibandingkan dengan kontrol

TABEL. 3. Perlakuan dengan menggunakan senyawa apigenin, tt-fernosol dan Chlorhexidine menunjukkan secara nyata adanya pengurangan Fruktosa terlarut bila dibandingkan dengan kontrol (P<0.05)
Jumlah total dari glukans ( metode dasar pada anthrone ) dan fruktansa ( Metode resorsinol ) di dalam biofilm yang memiliki persamaan dengan glukans dan fruktans ( hitungan scintillation). Diantara perlakuan-perlakuan itu , hanya apigenin dan kombinasi epigenin dan tt- farnesol yang memiliki aktivitas hambatan terhadap enzim fruktosyltransferase dari S.mutans UA159 dalam larutan 60-70% hambatan pada konsentrasi 1.33mM.
PEMBAHASAN
Caries gigi adalah penyakit yang umum pada gigi dan merupakan masalah besar penduduk Amerika dan negara lain. Tidak seperti kondisi umumnya penyakit, caries gigi merupakan penyakit sering terjadi pada masyarakat, adanya perawatan gigi dengan baik maka pencegahan penyebab caries gigi bisa ditekan sampai 95%.
Upaya untuk menghilangkan adanya penyakit caries, strategi yang seharusnya dikembangkan adalah menghilangkan faktor penyebab termasuk di dalam patogenisis yang umum pada penyakit mulut. Sintesis glukosa oleh GTFs merupakan hal yang penting dalam mengekpresikan penyebab terjadinya penyakit oleh S. Mutans. Matrik pluque yang kaya akan glukans akan menaikan porositas dan interaksi adhesif dan penurunan konsentrasi senyawa an organik. Pencegahan produksi gula, pendekatan therapeutik merupakan upaya untuk pencegahan terhadap bentuk atau penyebab pluque gigi . Tak seperti antimikrobial spektrum luas, flora mulut tidak terganggu keberadaanya. Strategis kemoterapi adalah sebagai dasar pada tingkat bakteri kariogenik di dalam penggunaan antimikroba , disamping itu pertumbuhan dan kemampuan organisme untuk mensintesis glukans merupakan hal yang lebih penting dari pada populasi bakteri pada mulut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa epigenin dan tt-farnesol mampu mengurangi penyakit caries gigi pada tikus tanpa menyebabkan pengurangan jumlah populasi sel atau kadar dari mutan Streptococci di dalam pluque tikus. Ada dugaan bahwa salah satu mekanisme anti caries/ agent anti pluque yang terekpresikan berpengaruh pada penyakit caries gigi yaitu dengan adanya penurunan sintesis glukosa dalam pluque, hal ini dipengaruh oleh aktivitas enzim GTFs dan membran bakteri secara invitro. Didalam penelitian ini, peneliti meneliti adanya pengaruh senyawa epiginin dan tt farrnesol terhadap biofilm dengan menggunakan model biofilm eksperimental S. Mutans UA 159 dengan perlakuan 1 menit dalam 2 hari sekali, seperti pada manusia. Model ini menentukan komposisi polisakarida dan populasi sel pada Biofilm S.mutans.
Di dalam penelitian ini, Peneliti menemukan bahwa penggunaan senyawa apigenin dan tt- farnesol, baik secara sendiri maupun kombinasi, 2 kali sehari ( total dari 6 kali penerapan ) menghasilkan jumlah polisakarida lebih rendah pada biofilm S. Mutans. Adanya pengaruh polisakarida oleh senyawa epiginin dan tt-fernosol, glukans terlarut alkali merupakan dasar yang penting untuk perkembangan biofilm dan akumulasi biofilm. Glukans terlarut alkali adalah glukans ekstrasel yang melekat pada permukaan sel dari glukans alpa 1,3 dan juga sejumlah larutan glukans alpa 1,6 . Hal ini menunjukkan adanya sintesis glukans dari sukrosa oleh enzim GTFs yang berperanan penting dalam pelekatan dan kolonisasi dari S.mutans pada permukaan mulut. Pengurangan sintesis glukans terlarut alkali, oleh senyawa epigenin dan tt-farnesol secara nyata mempengaruhi perkembangan dan akumulasi biofilm. Perlakuan dengan menggunakan epigenin dan tt-fernosol menunjukkan viabilitas sel yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol. Senyawa epigenin ( Pada kadar 1.33mM) memiliki kemampuan anti bakteri terhadap S.mutans , sel plantonik atau tahap biofilm. Walaupun senyawa tt-farnesol menunjukkan adanya sifat anti bakteri terhadap sel plantonik pada mutan Streptococci,tetapi tidak mampu membunuh biofilm S.mutans pada kadar 1.33mM. Data menunjukkan bahwa penggunaan senyawa apigenin menyebabkan adanya pengurangan terhadap proses sintesis glukans tak larut ekstraseluler, pelekatan dan akumulasi dari biofilm S. Mutans pada permukaan .
Apigenin dan tt-farnesol memiliki perbedaan mekanisme dalam mengurangi sintesis glukosa. Sasaran utama dari epigenin adalah enzim GTFs, terutama GTFs B da C, yang bertanggung jawab untuk sintesis glukans yang tidak larut dan sintesis glukans yang larut. Apigenin merupakan senyawa penghambat non kompetitif yang memiliki aktivitas terhadap enzim GTFs B dan C dalam larutan ( 90 -95%) pada kadar 1.33mM atau penyerapan hydroxiapatite pada permukaan saliva ( terjadi penghambatan antara 60-65% ) pada 1.33mM ) . Peneliti mengamati bahwa senyawa apigenin sedikit berpengaruh terhadap sekresi enzim saliva, seperti amilase dan lisosom ( H. Koo & W.H. Bowen, unpublished result ). Adanya apigenin menyebabkan meningkatkan proporsi kelarutan glukans dalam biofilm dibandingkan dengan kontrol. Kemungkinan fenomena ini dikaitkan dengan adanya pengaruh apigenin dalam mengekspresikan enzim GTFs D oleh S. Mutans.
Hasil penelitian selanjutnya, bahwa adanya pengaruh penambahan apigenin, tt- farnesol;
Penambahan senyawa epigenin pada permukaann GTFs tidak berpengaruh terhadap penyerapan enzim GTFs D , dan juga akativitas enzim GTFsB dan C. Pencegahan sintesa enzim glukans oleh senyawa tt- farnesol memberikan pengaruh terhadap membran sel, yang secara langsung berpengaruh pada aktivitas enzim, tt-farnesol kurang bersifat penghambat terhadap GTFs. Struktur kimia dan lipophilig dari tt-farnesol mendukung membran yang menyebabkan perubahan permeabilitas dan kestabilan membran, hasil pengamatan menunjukkan bahwa tt-farnesol mengganggu membran bakteri pada sel plantonik pada Streptococi mutans .Hal Ini disebut sebagai zat yang menyebabkan kerusakan pada membran , tanpa mempengaruhi metabolis bakteri, tetapi juga berpengaruh terhadap sintesa glukans oleh Streptococcus mutans.
Pengaruh penggunaan senyawa terhadap biofilm fruktans menunjukkan lebih kecil bila dibandingkan dengan glukans. Perlakuan biofilm dengan menggunakan apigenin lebih rendah bila dibandingkan dengan alkali fruktans terlarut, kemungkinan disebabkan oleh ada kaitannya dengan pengaruh penghambatan pada aktivitas enzim fruktosyltransferase oleh epigenin (60 % penghambatan 1.33mM) jumlah dan persentase dari fruktans di dalam biofilm tidak dipengaruhi oleh tt-farnesol.
Selanjutnya, jumlah dan kadar dari IPS menurunkan dengan adanya senyawa apigenin dan tt-farnesol; IPS adalah Polimer glikokans yang memiliki ikatan alpa 1,4 dan alpa 1,6 dan memiliki peranan penting sebagai sumber untuk produksi asam bila lingkungan tidak tersedia karbohidrat eksogen. Hal Ini memegang peranan yang penting dalam aktivitas biologi seperti dalam pencegahan penyakit caries yang belum sepenuhnya diteliti, tetapi meskipun demikian data telah menunjukkan bahwa IPS adalah merupakan campuran dari zat kariogenisitik dari S. Mutans.
Kombinasi senyawa apigenin dan tt-fernesol secara nyata lebih efektif di dalam mengurangi akumulasi biofilm bila dibandingkan tanpa kombinasi ( P<0.05). perlakuan kombinasi juga menunjukkan hasil lebih baik dari pada apigenin, walaupun secara statistik tidak signifikan ( P>0.05). Kombinasi dari apigenin dan tt-farnesol secara nyata mengurangi persentase larutan glukans alkali pada biofilm dibandingakan dengan kontrol ( P<0.05). Pengaruh terhadap hambatan yang paling baik dari kombinasi apigenin dan tt-farnesol pada akumulasi biofilm , konsentrasi glukosa alkali dijelaskan pada pengamatan pada kombinasi perlakuan yang lebih efektif di dalam mengurangi timbulnya caries gigi.
Perbedaan apigenin dan tt-farnesol, chlorahexidine terhadap biofilm , chlorhexidine adalah anti bakteri spektrum luas yang mampu menghambat aktivitas penyerapan GTFs ( 10-20% pada 1.33mM) Kelihatannya pengurangan viabilitas pada awal terbentuknya biofilm (54 jam ), chlorhexidine benar-benar menghentikan proses akumulasi pada bakteri S.mutans pada permukaan , kandungan protein dan polisakrida pada perlakuan biofilm menunjukkan hal yang sama dengan biofilm yang tidak mendapat perlakuan.
Pengaruh apigenin dan tt-farnesol pada satu spesies biofilm mempunyai banyak implikasi terhadap kemampuan terapautik pada susunan biokimia yang komplek pada pluque gigi manusia. Terutama sekali, zat zat yang berpengaruh pada sintesa glukosa, matrik polisakarida , hambatan GTFs dan sintesis glukosa, akumulasi bakteri, termasuk mikroorganisme pada mulut yang tidak membentuk polisakarida. Data telah menunjukkan bahwa matrik glukosa merupakan faktor yang utama yang mempengaruhi tingginya kariogenisitik pada pluque gigi ( Seperti pada mikrobiologi dan biokimia ) yang dibentuk karena adanya sukrosa secara in vivo.
Pada model biofilm monospesies, persentase polisakarida (45 % dari biofilm berat kering ) nampak lebih tinggi dari pada 15% - 25% pada berat kering yang ditunjukkan pada pluque gigi. Bagaimanapun juga, konsentrasi polisakarida pada pluque gigi tergantung pada waktu sejak pengambilan dan penambahan gula, tidak adanya proses degradasi yang terjadi pada poliskarida ,Hal yang membedakan yaitu, apa yang terjadi pada pluque gigi. Adanya konsentrasi polisakarida tertinggi mungkin juga dihubungkan dengan. adanya pembongkaran sukrosa yang konstan oleh S.mutans pada biofilm, S. mutans yang sedang mengalami pertumbuhan.
Data penelitian ini menunjukkan bahwa suatu perlakuan ( 1 menit dalam 2 kali sehari dengan penambahan zat apigenin dan tt-farnesol berpengaruh nyata terhadap proses akumulasi dan kandungan polisakarida pada biofilm S.mutan. Pada umumnya, Apigenin dan tt-farnesol lebih berpengaruh pada biomasa dan jumlah total dari polisakarida dibanding dengan viabilitas sel dan kandungan polisakarida pada biofilm. Dalam penerapannya , Penggunaan senyawa apigenin dan tt-farnesol secara nyata berpengaruh terhadap laju sintesa glukosa , pengurangan akumulasi dan biomasa dari biofilm. Peneliti telah mempelajari mengenai mekanisme molekuler yang meliputi penghambatan biofilm dengan adanya perlakuan. Secara toxicology, senyawa-senyawa itu tidak diteliti, peneliti tidak meneliti efek yang merugikan terhadap hewan yang diteliti. Senyawa Apigenin yang terbentuk secara alami, bersifat non mutagenik, senyawa non toksik bioflavonoid yang ditemukan di sayuran dan buah-buahan, dan merupakan zat untuk diet (1-4 mg/ hari ). tt-farnesol adalah senyawa alami yang ditemukan pada minyak pada citrus,buah dan juga tidak memberikan efek racun secara in vivo.
Dua senyawa alami ini digunakan untuk mencegah penyakit caries gigi , senyawa tersebut tidak berpengaruh terhadap flora gigi ( Berbeda dengan chlorhexidine), senyawa senyawa itu akan mengganggu proses akumulasi dan kandungan polisakarida pada pluque gigi yang umum disebut penyakit gigi.
Gambar mekanisme terbentuknya Biofilm

Gambar 2 Formasi Biofilm

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Ajdic, D., McShan, W. M., McLaughlin, R. E. et al. (2002). Genome sequence of Streptococcus mutans UA159, a cariogenic dental pathogen. Proceedings of the National
Ashley, F. P. & Wilson, R. F. (1977). The relationship between dietary sugar experience and the quantity and biochemical composition of dental plaque in man. Archives of Oral Biology 22, 409–14.
Bowden, G. H. & Hamilton,
Bowen, W. H. (2002). Do we need to be concerned about dental caries in the coming millennium? Critical Reviews in Oral Biology and Medicine 13, 126–31.
Burke, Y. D., Stark, M. J., Roach, S. L. et al. (1997). Inhibition of pancreatic cancer growth by the dietary isoprenoids farnesol and geraniol. Lipids 32, 151–6.
Burne, R. A., Chen, Y. Y., Wexler, D. L. et al. (1996). Cariogenicity of Streptococcus mutans strains with defects in fructan metabolism assessed in a program-fed specific-pathogen-free rat model. Journal of Dental Research 75, 1572–7.
Cury, J. A., Rebelo, M. A., Del Bel Cury, A. A. et al. (2000). Biochemical composition and cariogenicity of dental plaque formed in the presence of sucrose or glucose and fructose. Caries Research 34, 491–7.
Czeczot, H., Tudek, B., Kusztelak, J. et al. (1990). Isolation and studies of the mutagenic activity in the
Dibdin, G. H. & Shellis, R. P. (1988). Physical and biochemical studies of Streptococcus mutans sediments suggest new factors linking the cariogenicity of plaque with its extracellular polysaccharide content. Journal of Dental Research 67, 890–5.
Dionigi, C. P., Millie, D. F. & Johnsen, P. B. (1991). Effects of farnesol and the off-flavor derivative geosmin on Streptomyces tendae. Applied Environmental Microbiology 57, 3429–32.
DiPersio, J. R., Mattingly, S. J., Higgins, M. L. et al. (1974). Measurement of intracellular iodophilic polysaccharide in two cariogenic Influence of apigenin and tt-farnesol on biofilms 789 strains of Streptococcus mutans by cytochemical and chemical methods. Infection and Immunity 10, 597–604.
Dubois, M., Gilles, K. A., Hamilton, J. K. et al. (1956). Colorimetric method for determination of sugars and related substances. Analytical Chemistry 28, 350–6.
Ebisu, S., Kato, K., Kotani, S. et al. (1975). Structural differences in fructans elaborated by Streptococcus mutans and Strep. salivarius. Journal of Biochemistry 78, 879–87.
Emilson, C. G., Nilsson, B. & Bowen, W. H. (1984). Carbohydrate composition of dental plaque from primates with irradiation caries. Journal of Oral Pathology 13, 213–20. fluoride and aluminum from ionomeric materials on S. mutans biofilm. Journal of Dental Research 82, 267–71.from Streptococcus mutans in solution and adsorbed to experimental pellicle. Archives of Oral Biology 44, 203–14.
Hayacibara, M. F., Rosa, O. P., Koo, H. et al. (2003). Effects ofHornby, J. M., Jensen, E. C., Lisec, A. D. et al. (2001). Quorum sensing in the dimorphic fungus Candida albicans is mediated by farnesol. Applied Environmental Microbiology 67, 2982–92.
Hotz, P., Guggenheim, B. & Schmid, R. (1972). Carbohydrates in pooled dental plaque. Caries Research 6, 103–21.
Ikeno, K., Ikeno, T. & Miyazawa, C. (1991). Effects of propolis on dental caries in rats. Caries Research 25, 347–51.
IRL Press,
Jones, C. G. (1997). Chlorhexidine: is it still the gold standard? Periodontology 2000 15, 55–62.
Koo, H., Cury, J. A., Rosalen, P. L. et al. (2002). Effect of a mouthrinse containing selected propolis on 3-day dental plaque accumulation and polysaccharide formation. Caries Research 36, 445–8.
Koo, H., Pearson, S. K., Scott-Anne, K. et al. (2002). Effects of apigenin and tt-farnesol on glucosyltransferase activity, biofilm viability and caries development in rats. Oral Microbiology and Immunology 17, 337–43.
Koo, H., Rosalen, P. L., Cury, J. A. et al. (1999). Effect of Apis mellifera propolis from two Brazilian regions on caries development in desalivated rats. Caries Research 33, 393–400.
Koo, H., Rosalen, P. L., Cury, J. A. et al. (2002). Effects of compounds found in propolis on Streptococcus mutans growth and on glucosyltransferase activity. Antimicrobial Agents and Chemotherapy 46, 1302–9.
Kulka, R. G. (1956). Colorimetric estimation of ketopentoses and ketohexoses. Biochemistry 63, 542–7.
Li, Y. & Burne, R. A. (2001). Regulation of the gtfBC and ftf genes of Streptococcus mutans in biofilms in response to pH and carbohydrate. Microbiology 147, 2841–8.
Loesche, W. J. (1986). Role of Streptococcus mutans in human dental decay. Microbiology Reviews 50, 353–80.
Marquis, R. E., Clock, S. A. & Mota-Meira, M. (2002). Fluoride and organic weak acids as modulators of microbial physiology. FEMS Microbiology Reviews 760, 1–18.
Marsh, P. D. & Bradshaw, D. J. (1995). Dental plaque as a biofilm. Journal of Industrial Microbiology 15, 169–75.
Matos-Graner, R. O., Smith, D. J., King, W. F. et al. (2000). Waterinsoluble glucan synthesis by mutans streptococcal strains correlates with caries incidence in 12- to 30-month-old children. Journal of Dental Research 79, 1371–7.
McCabe, R. M. & Donkersloot, J. A. (1977). Adherence of Veillonella species mediated by extracellular glucosyltransferase from Streptococcus salivarius. Infection and Immunity 18, 726–34.
Mien, H. K. & Mohamed, S. (2001). Flavonoid (myricetin, quercetin, luteolin, and apigenin) content of edible tropical plants. Journal of Agricultural and Food Chemistry 49, 3106–12
Moore, S. & Stein, W. H. (1954). A modified ninhydrin reagent for the photometric determination of amino acids and related compounds. Journal of Biological Chemistry 211, 907.
National Institutes of Health. (2001). Diagnosis and Management of Dental Caries Throughout Life. NIH Consensus Statement 18 (1), pp. 1–30. National Institutes of Health,
Nobre dos Santos, M., Melo dos Santos, L., Francisco, S. B. et al. (2002). Relationship among dental plaque composition, daily sugar exposure and caries in the primary dentition. Caries Research 36, 347–52.
Ramage, G., Saville, S. P., Wickes, B. L. et al. (2002). Inhibition of Candida albicans biofilm formation by farnesol, a quorum-sensing molecule. Applied Environmental Microbiology 68, 5459–63.
Rölla, G., Ciardi, J. E., Eggen, K. et al. (1983). Free glucosyl- and fructosyltransferase in human saliva and adsorption of these enzymes to
Sato, Y., Suzaki, S., Nishikawa, T. et al. (2000). Phytochemical flavones isolated from Scutellaria barbata and antibacterial activity against methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Journal of Ethnopharmacology 72, 483–8.
Schilling, K. M. & Bowen, W. H. (1992). Glucans synthesized in situ in experimental salivary pellicle function as specific binding sites for Streptococcus mutans. Infection and Immunity 60, 284–95.
Steinberg, D., Rozen, R., Bromshteym, M. et al. (2002). Regulation of fructosyltransferase activity by carbohydrates, in solution and immobilized on hydroxyapatite surfaces. Carbohydrate Research 337, 701–10. SAS Institute. (1989). User’s Guide: Version 2 of JMP. SAS Institute,
Tanzer, J. M., Freedman, M. L., Fitzgerald, R. J. et al. (1985). Virulence of mutants defective in glucosyltransferase, dextran-mediated aggregation, or dextranase activity. In Molecular Basis of Oral Microbial Adhesion Mergenhagen, S. E. & Rosan, B., Eds), pp. 204–11. American
Tanzer, J. M., Freedman, M. L., Woodiel, F. N. et al. (1976). Association of Streptococcus mutans virulence with synthesis of intracellular polysaccharide. In Proceedings of Microbial Aspects of Dental Caries (Stiles, H. M., Loesche, W. J. & O’Brien, T. C., Eds), pp. 597–616. Special Supplement to Microbiology Abstracts 1. Information Retrieval, Inc.,
teeth in vivo. In Glucosyltransferases, Glucans, Sucrose, and Dental Caries (Doyle, R. J. & Ciardi, J. E., Eds), pp. 21–30. Chemical Senses,
Vacca-Smith, A. M. & Bowen, W. H. (1998). Binding properties of streptococcal glucosyltransferases for hydroxyapatite, saliva-coated hydroxyapatite, and bacterial surfaces. Archives of Oral Biology 43, 103–10.
Venkitaraman, A. R., Vacca-Smith, A. M. & Kopec, L. K. (1995). Characterization of glucosyltransferaseB, GtfC, and GtfD in solution and on the surface of hydroxyapatite. Journal of Dental Research 74, 1695– 701.
Wunder, D. & Bowen, W. H. (1999). Action of agents on glucosyltransferases
Yamashita, Y., Bowen, W. H., Burne, R. A. et al. (1993). Role of the Streptococcus mutans gtf genes in caries induction in the specificpathogen- free rat model. Infection and Immunity 61, 3811–7.
PEMANFAATAN APIGENIN dan tt – FERNASOL TERHADAP
AKTIVITAS PERKEMBANGAN BIOFILM
Streptococcus mutans.

DISUSUN OLEH
WIJIYONO / 077030026
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2008
PENTINGNYA STRATEGI MANAJEMEN DALAM ERA DIGITALISASI SEKOLAH/MADRSAH Era disrupsi digital menuntut lembaga pendidikan, termasuk Madrasah,...